Moka Logo
Buffer Stock: Pengertian, Contoh, Fungsi, dan Cara Menghitungnya

Tips Bisnis

Buffer Stock: Pengertian, Contoh, Fungsi, dan Cara Menghitungnya

7 min

by

Bayangkan Anda sedang menjalankan bisnis yang sedang naik daun atau mengelola kebutuhan publik yang vital, lalu tiba-tiba permintaan melonjak tak terduga. Hal ini menyebabkan rantai pasokan terganggu, stok barang menipis, harga meroket, dan kepanikan mulai terasa, baik di sisi produsen maupun konsumen.

Hal semacam itu sering dihadapi dalam manajemen pasok di pasar. Karena itu, buffer stock memiliki peranan penting untuk menyelamatkan bisnis dari berbagai rintangan tersebut. Memangnya, apa itu buffer stock, bagaimana cara kerjanya, dan strategi pengelolaannya? Temukan jawaban lengkapnya pada artikel ini!

Apa Itu Buffer Stock?

Buffer stock adalah jumlah persediaan barang tambahan yang disimpan untuk memitigasi risiko kekurangan stok (stockout) yang disebabkan oleh ketidakpastian dalam permintaan dan penawaran. Dalam dunia ekonomi dan manajemen operasional, buffer stock sering disebut sebagai “persediaan pengaman” yang bertindak sebagai bantalan ketika terjadi fluktuasi pasar.

Berbeda dengan persediaan reguler yang diputar untuk memenuhi permintaan harian, buffer stock baru akan disentuh ketika stok utama habis dan permintaan terus masuk. Kondisi lain yang juga menyebabkan buffer stock tersentuh adalah ketika supplier mengalami keterlambatan pengiriman (lead time yang lebih lama).

Dengan begitu, keberadaan stok ini memastikan operasional bisnis tetap berjalan mulus tanpa jeda, menjaga kepercayaan pelanggan, dan yang paling penting dalam skala makro adalah membantu menjaga stabilitas harga dengan memastikan ketersediaan barang tetap melimpah meski pasar sedang tidak menentu.

Contoh Buffer Stock

Setiap industri memiliki karakteristik unik dalam mengelola cadangan stoknya. Berikut adalah elaborasi mendalam mengenai penerapan buffer stock di berbagai sektor.

1. Bisnis elektronik

Dalam industri elektronik, buffer stock biasanya berfokus pada komponen inti yang sulit didapat atau memiliki rantai pasok panjang, seperti chipset atau semikonduktor. Mengingat tren teknologi berubah sangat cepat, perusahaan elektronik harus berhati-hati dalam menentukan jumlah stok cadangan. Jika terlalu sedikit, mereka gagal memenuhi permintaan pasar saat peluncuran produk baru.

Meski begitu, jika terlalu banyak menyetok barang, maka akan berisiko mengalami stok usang (obsolete) karena teknologi baru. Pasalnya, industri elektronik cukup rawan terhadap keusangan. Di sisi lain, industri ini juga menawarkan harga yang tak pernah naik setelah barang tersebut dibeli dan digunakan.

2. Bisnis FMCG

Industri FMCG adalah pengguna buffer stock paling aktif. Produk seperti sabun, mi instan, atau susu memiliki volume penjualan tinggi dan tingkat loyalitas merek yang rentan. Jika seorang ibu tidak menemukan deterjen merek favoritnya di rak supermarket karena stok kosong, ia akan langsung beralih ke merek kompetitor.

Oleh karena itu, perusahaan FMCG menyimpan stok cadangan di berbagai titik distribusi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan saat tanggal kembar (double day sale) atau hari raya besar.  Hal ini dilakukan untuk memastikan produk selalu tersedia, kapan pun konsumen membutuhkannya.

3. Bisnis retail dan fashion

Dalam dunia fashion, buffer stock sering kali diterapkan pada produk-produk basic atau best-seller yang tidak lekang oleh waktu. Kategori tersebut biasanya terjadi pada barang-barang seperti kaos polos hitam atau celana denim. Untuk barang musiman, buffer stock dikelola lebih ketat karena risiko perubahan tren.

Namun, bagi ritel besar, memiliki cadangan stok di gudang pusat memungkinkan mereka melakukan pengisian ulang (replenishment) ke gerai-gerai cabang tanpa harus menunggu pengiriman baru dari pabrik. Sehingga, kepuasan pelanggan tetap terjaga meskipun sedang berada di musim puncak.

4. Bisnis farmasi

Di sektor kesehatan, buffer stock bukan lagi sekadar urusan profit, melainkan keselamatan nyawa. Apotek dan rumah sakit harus menyimpan cadangan obat-obatan esensial, vaksin, dan alat kesehatan untuk mengantisipasi keadaan darurat. Pengelolaan stok cadangan di farmasi sangat teknis karena harus memperhatikan masa kedaluwarsa dan regulasi suhu penyimpanan yang ketat. 

Ketiadaan stok cadangan di industri ini bisa menyebabkan krisis kesehatan yang fatal. Misalnya, saat pandemi Covid-19 lalu, setiap sektor kesehatan mesti memiliki stok vaksin dan oksigen yang matang untuk mengakomodasi kebutuhan pasar. Selain itu, industri ini juga sangat memedulikan tanggal kedaluwarsa dan regulasi suhu penyimpanan yang ketat.

5. Bisnis F&B

Sama halnya dengan industri kesehatan, bisnis food and beverage juga sangat memperhatikan tanggal kedaluwarsa atau masa simpan sebuah bahan baku produk. Biasanya, para pemilik restoran atau kafe menggunakan buffer stock untuk bahan baku kering atau bumbu dasar yang tahan lama.

Sebuah kafe akan menyimpan stok biji kopi cadangan lebih banyak daripada kebutuhan mingguan untuk menghindari kenaikan harga mendadak dari pengepul atau gangguan distribusi. Dengan cadangan ini, operasional dapur tidak akan berhenti hanya karena satu pengiriman bahan baku terlambat datang, sehingga menu dapat dipastikan tetap tersedia lengkap.

6. Program pemerintah

Lain halnya dengan pemerintah yang menggunakan buffer stock sebagai instrumen kebijakan ekonomi makro. Melalui lembaga seperti BULOG, pemerintah menyimpan cadangan beras, gula, dan minyak goreng dalam jumlah masif. Cadangan ini digunakan untuk intervensi pasar saat harga pangan melonjak atau sebagai bantuan sosial saat terjadi bencana alam.

Strategi ini memastikan masyarakat tetap memiliki akses ke pangan murah sekaligus melindungi produsen dari harga jatuh saat panen raya. Meski begitu, pemerintah juga rentan terhadap isu barang kedaluwarsa atau sudah tidak layak simpan. Maka, perlu ada manajemen stok yang ketat demi menjamin kepuasan masyarakat.

Fungsi Buffer Stock

Selain menjamin rantai pasok tetap aman, kenali beberapa fungsi buffer stock dalam berbagai macam jenis usaha. Berikut penjelasannya!

1. Mengantisipasi lonjakan permintaan

Fungsi utama adanya buffer stock adalah menanggulangi lonjakan permintaan produk. Bayangkan sebuah perusahaan FMCG yang memproduksi minuman isotonik. Saat cuaca ekstrem melanda, permintaan bisa melonjak hingga 200% dalam seminggu. Tanpa buffer stock, lini produksi mungkin tidak mampu mengejar permintaan instan tersebut sehingga rak-rak toko pun kosong.

Namun, berkat adanya cadangan stok, perusahaan bisa segera mendistribusikan barang untuk mengisi kekosongan tersebut sambil meningkatkan kapasitas produksi. Ini mencegah terjadinya panic buying dan memastikan pangsa pasar tidak direbut oleh kompetitor. Dengan begitu, omzet perusahaan pun aman terkendali.

2. Menjaga stabilitas harga

Fungsi berikutnya dari buffer stock adalah menjaga stabilitas harga. Buffer stock adalah senjata utama untuk melawan inflasi pangan. Contoh nyatanya adalah bagaimana pemerintah mengelola beras. Saat musim kemarau panjang, hasil panen petani menurun, yang secara hukum ekonomi akan mendorong harga naik drastis karena kelangkaan.

Di sinilah pemerintah mengeluarkan stok cadangannya ke pasar melalui operasi pasar murah. Membanjiri pasar dengan pasokan tambahan membuat harga kembali stabil. Langkah ini melindungi kesejahteraan petani agar harga tidak anjlok saat panen raya dan melindungi daya beli masyarakat agar tidak terbebani harga pangan yang mahal.

3. Meningkatkan kepuasan pelanggan

Ketersediaan barang adalah bentuk pelayanan pelanggan yang paling dasar. Pelanggan yang kecewa karena barang habis cenderung tidak akan kembali. Oleh karena itu, buffer stock menjamin bahwa janji pemenuhan pesanan (order fulfillment) tetap terjaga meski terjadi gangguan pada supplier. Dalam bisnis e-commerce, pengiriman yang cepat dapat meningkatkan rating toko dan loyalitas pembeli. Kepuasan ini berkontribusi langsung pada reputasi jangka panjang bisnis Anda.

4. Mendorong efisiensi biaya

Mungkin terdengar kontradiktif bahwa menyimpan lebih banyak barang bisa menghemat uang. Namun, secara finansial, membeli stok tambahan saat harga rendah atau dalam jumlah besar (bulk buying) sering kali lebih hemat daripada harus membayar ongkos kirim darurat (expedited shipping) yang mahal atau kehilangan omzet total karena stok kosong.

Selain itu, cara ini juga membuat Anda terhindar dari kerugian biaya akuisisi pelanggan baru. Maksudnya, menyimpan stok cadangan terhitung jauh lebih murah daripada mencoba memenangkan kembali hati pelanggan yang berpindah ke kompetitor akibat kekecewaan terhadap stok Anda.

Cara Hitung Buffer Stock

Setelah mengetahui beberapa manfaat buffer stock, Anda juga perlu tahu bagaimana cara menghitung stok yang diperlukan. Berikut adalah rumus yang umum dipakai.

Buffer stock = (Lead time maksimum x Rata-rata penjualan harian)
– (Lead time rata-rata x Pemakaian rata-rata)

Contoh Kasus: Toko kopi Anda menjual rata-rata 50 kg biji kopi per hari, tetapi saat akhir pekan bisa mencapai 80 kg. Waktu pengiriman dari supplier biasanya 3 hari, tetapi terkadang terlambat hingga 5 hari.

  • (80 kg × 5 hari) = 400 kg
  • (50 kg × 3 hari) = 150 kg
  • Buffer stock = 400 – 150 = 250 kg

Jadi, Anda harus selalu memiliki cadangan 250 kg biji kopi di gudang agar operasional tetap aman meski terjadi lonjakan pembeli dan keterlambatan pengiriman sekaligus.

Tips Menyimpan dan Mengelola Buffer Stock

Nyatanya, memiliki stok cadangan tak selamanya mudah. Anda tetap perlu tips-tips khusus agar buffer stock dapat dikelola dengan tepat.

1. Lakukan pengecekan stok secara berkala

Stok cadangan sering kali terlupakan di pojok gudang. Tanpa pengecekan rutin, Anda berisiko menyimpan barang yang sudah kedaluwarsa atau rusak. Maka dari itu, lakukan stock opname terjadwal untuk memastikan jumlah fisik sesuai dengan data di sistem. Pengecekan ini juga membantu Anda mendeteksi sejak dini jika ada kerusakan pada kemasan akibat hama atau suhu lembap.

2. Lakukan demand forecasting sebelum memesan stok tambahan

Jangan memesan stok cadangan hanya berdasarkan intuisi. Gunakan data penjualan historis untuk memprediksi kapan permintaan akan melonjak. Misalnya, menjelang Ramadan atau akhir tahun umumnya akan terjadi lonjakan permintaan dari pelanggan. Dengan forecasting yang akurat, Anda bisa menentukan berapa banyak buffer stock yang benar-benar dibutuhkan. Hal ini membuat stok berlebih di gudang menjadi terhindar sehingga Anda tidak rugi secara materi.

3. Terapkan sistem inventory management yang tepat

Kenali beberapa metode penyimpanan stok karena ini akan bergantung pada jenis produk yang Anda jual. Sebagai contoh, FIFO (First In First Out) baiknya dipakai untuk makanan atau kosmetik agar barang lama keluar lebih dulu. Selanjutnya, ada juga FEFO (First Expired First Out) yang bisa sangat cocok untuk bisnis kesehatan atau produk segar yang memiliki masa kedaluwarsa singkat. 

Terakhir, ada JIT (Just In Time) yang pas diterapkan pada bisnis manufaktur untuk meminimalkan biaya simpan dan membuat relasi dengan supplier menjadi lebih solid. Mengenali metode penyimpanan stok ini dapat menghindarkan Anda dari tumpukan barang rongsokan di gudang Anda.

4. Jalin komunikasi baik dengan supplier

Tips berikutnya untuk mengelola stok barang adalah dengan menjalin komunikasi yang transparan dengan supplier. Dengan memastikan transparansi, Anda jadi bisa segera menyesuaikan strategi buffer stock sebelum stok benar-benar habis. Selain itu, hubungan yang baik juga dapat memberikan Anda akses prioritas pada barang berkualitas baik dengan harga yang lebih kompetitif.

5. Jaga suhu dan kelembapan udara tempat penyimpanan barang

Banyak barang consumer goods yang sensitif terhadap kondisi lingkungan. Gudang yang terlalu lembap bisa merusak kemasan kertas atau menumbuhkan jamur pada tekstil. Sementara itu, suhu yang terlalu panas bisa merusak kandungan kimia dalam obat atau rasa pada bahan pangan. Maka, cobalah berinvestasi pada termometer dalam ruang dan alat pengatur kelembapan agar buffer stock yang Anda simpan tetap dalam kondisi prima saat dibutuhkan nanti.

6. Perhatikan jarak antara barang yang disimpan

Penyimpanan yang terlalu rapat tidak hanya mempersulit mobilitas karyawan, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan. Berikan ruang yang cukup antar-rak atau palet untuk sirkulasi udara dan akses alat berat seperti forklift. Penataan yang rapi dapat mencegah risiko barang tersenggol yang bisa mengakibatkan tumpahan atau kerusakan fatal pada produk pecah belah. 

Gudang yang terorganisasi dengan baik adalah kunci efisiensi kerja. Selain itu, gudang yang rapi juga dapat membuat pekerja Anda bersemangat dalam mengurus manajemen stok. Hal ini tentu memengaruhi produktivitas bisnis. Efek jangka panjangnya adalah bisa meningkatkan keuntungan perusahaan. 

7. Pastikan armada distribusi mencukupi

Buffer stock yang melimpah tidak akan berguna jika Anda tidak bisa mengirimkannya ke pelanggan atau cabang tepat waktu, terutama jika Anda menggunakan sistem JIT atau memiliki banyak cabang retail. Dalam hal ini, ketersediaan kendaraan dan kurir adalah kebutuhan yang tidak kalah penting dari stok barang.

Pastikan jadwal pemeliharaan armada rutin dilakukan agar tidak ada kendala teknis saat permintaan sedang tinggi-tingginya. Sediakan anggaran khusus untuk meng-cover kebutuhan ini dan pastikan Anda memiliki pemain cadangan untuk pengantar guna memitigasi kemungkinan lain, seperti sopir utama sakit atau kecelakaan.

Mengelola buffer stock secara manual menggunakan buku besar atau spreadsheet sering kali menguras waktu dan rentan terhadap human error. Padahal, akurasi data adalah kunci utama agar stok cadangan tidak menjadi beban finansial. Oleh karena itu, permudah manajemen operasional Anda dengan fitur Manajemen Stok dari Moka POS!

Dengan Moka POS, Anda tidak perlu lagi menebak-nebak jumlah stok yang tersisa karena jumlah stok akan otomatis ter-update. Hal itu membuat bisnis Anda dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien. Maka dari itu, segera jadwalkan demo bersama kami dan cobalah menikmati manajemen stok yang mempermudah bisnis Anda!

Social Media Share :