Moka Logo
Food Costing: Cara Pintar Tentukan Harga Jual Makanan Biar Gak Rugi!

Tips Bisnis

Food Costing: Cara Pintar Tentukan Harga Jual Makanan Biar Gak Rugi!

7 min

by

“Beli satu kilogram telur atau daging sekali ini saja tidak akan berpengaruh pada biaya jangka panjang, kan?” 

Tunggu dulu, pengeluaran sekecil apa pun bisa menentukan harga jual makanan. Pada akhirnya, hal ini akan memengaruhi pilihan konsumen untuk tetap mengunjungi bisnis F&B Anda atau beralih ke kompetitor yang menawarkan harga lebih murah. Oleh sebab itu, Anda perlu memahami serba-serbi food costing untuk menekan risiko kerugian. Bagaimanakah cara melakukannya?

Apa Itu Food Cost?

Food cost adalah total biaya yang dikeluarkan untuk membeli dan mengolah bahan baku hingga menjadi satu porsi menu yang siap disajikan kepada pelanggan. Dalam bisnis kuliner, food cost menjadi salah satu indikator paling penting untuk mengukur efisiensi penggunaan bahan baku serta menentukan apakah sebuah menu bisa menghasilkan keuntungan yang sehat.

Secara sederhana, food cost membantu pemilik bisnis memahami berapa biaya aktual dari setiap porsi makanan yang dijual. Biaya ini mencakup bahan utama, bumbu, hingga elemen tambahan seperti garnish, selama semuanya berhubungan langsung dengan proses produksi makanan.

Dalam praktiknya, food cost biasanya dihitung dalam dua bentuk, yaitu biaya per porsi dan persentase terhadap harga jual. Food cost per porsi dihitung dengan membagi total biaya bahan baku dengan jumlah porsi yang dihasilkan. 

Sementara itu, persentase food cost diperoleh dengan membagi biaya bahan baku per porsi dengan harga jual, kemudian dikalikan 100 persen. Perhitungan ini membantu pelaku usaha menentukan harga jual yang ideal agar tetap menguntungkan.

Sebagai contoh, jika sebuah menu membutuhkan biaya bahan baku sebesar Rp500.000 untuk 10 porsi, maka food cost per porsinya adalah Rp50.000. Jika target food cost yang diinginkan adalah 33 persen, maka harga jual ideal per porsi sekitar Rp151.500. Dari sini terlihat bahwa pengaturan food cost sangat berpengaruh terhadap strategi penetapan harga dan profitabilitas bisnis.

Berapa Persentase Food Cost yang Ideal?

Persentase food cost yang ideal dalam industri kuliner umumnya berada di kisaran 30% hingga 40% dari total pendapatan penjualan, dengan angka 30%-35% sebagai target paling sehat untuk menjaga bisnis tetap stabil dan menguntungkan.

Rentang ini dianggap ideal karena mampu menciptakan keseimbangan antara kualitas produk, harga jual, dan profit bisnis. Jika food cost terlalu rendah (misalnya di bawah 30%), hal ini bisa menandakan penggunaan bahan baku yang terlalu murah sehingga berpotensi menurunkan kualitas makanan dan pengalaman pelanggan. Sebaliknya, jika terlalu tinggi (di atas 35%-40%), maka margin keuntungan akan semakin tipis karena sebagian besar pendapatan habis untuk biaya bahan baku.

Selain itu, sisa dari total pendapatan (sekitar 60% hingga 70%) dibutuhkan untuk menutup berbagai biaya operasional lainnya seperti gaji karyawan, sewa tempat, listrik, gas, hingga keuntungan bersih bisnis. Karena itu, menjaga food cost dalam rentang ideal sangat penting agar bisnis tetap sehat secara finansial.

Dalam praktiknya, standar ini juga bisa berbeda tergantung jenis usaha. Restoran casual dining biasanya berada di kisaran 28%-35%, sementara fine dining bisa mencapai 30%-40% karena menggunakan bahan baku premium. Untuk bisnis minuman, food cost cenderung lebih rendah, sekitar 20%-25%, sedangkan fast food biasanya menargetkan 25%-30% agar volume penjualan tetap tinggi.

Jika food cost aktual sering berada di atas 40%, biasanya ada masalah seperti pemborosan bahan baku, porsi yang tidak konsisten, atau harga jual menu yang belum optimal. Oleh karena itu, pengelolaan food cost yang baik menjadi kunci utama dalam menjaga profitabilitas bisnis kuliner.

Rumus Food Cost

Rumus food cost adalah total biaya bahan baku dibagi dengan harga jual, kemudian hasilnya dikalikan 100% untuk mendapatkan persentase. Food cost digunakan untuk mengetahui seberapa besar porsi biaya bahan baku dalam setiap produk makanan dibandingkan dengan harga jualnya. Semakin kecil persentasenya, biasanya semakin besar potensi keuntungan, selama kualitas tetap terjaga.

Sebagai contoh sederhana, jika sebuah menu memiliki total biaya bahan baku sebesar Rp5.000 dan dijual dengan harga Rp20.000, maka perhitungannya adalah Rp5.000 dibagi Rp20.000; hasilnya 0,25. Kemudian dikalikan 100% sehingga menjadi 25%. Artinya, 25% dari harga jual digunakan untuk menutupi biaya bahan baku.

Mengapa Food Costing Penting?

Food costing sangat penting dalam bisnis F&B karena menjadi dasar utama dalam mengatur biaya, harga jual, dan keuntungan secara seimbang. Tanpa perhitungan yang tepat, bisnis bisa sulit berkembang meskipun penjualan terlihat ramai. Berikut penjelasan lebih detailnya:

1. Menutupi pengeluaran untuk bahan baku

Food costing membantu pemilik usaha memastikan bahwa setiap menu yang dijual sudah diperhitungkan biaya bahan bakunya dengan benar. Dengan mengetahui berapa besar biaya produksi per porsi, bisnis dapat menetapkan harga jual yang mampu menutup seluruh biaya bahan baku sekaligus menghasilkan laba. Tanpa perhitungan ini, ada risiko harga jual terlalu rendah, sehingga usaha rugi, atau terlalu tinggi sehingga sulit bersaing di pasar.

2. Menjaga ketertarikan konsumen

Food costing berperan dalam menjaga keseimbangan antara keuntungan bisnis dan kepuasan pelanggan. Dengan perhitungan yang tepat, restoran dapat menetapkan harga yang wajar dan tetap kompetitif. Selain itu, food costing juga membantu menjaga konsistensi porsi, rasa, dan kualitas makanan karena penggunaan bahan sudah distandarkan. Konsistensi ini sangat penting karena pelanggan cenderung kembali ke tempat yang memberikan pengalaman yang sama setiap kali mereka membeli.

3. Mengurangi limbah yang terbuang

Dengan adanya perhitungan food cost, pemilik usaha dapat merencanakan kebutuhan bahan baku secara lebih akurat berdasarkan penjualan dan kebutuhan menu. Hal ini membantu menghindari pembelian bahan secara berlebihan yang berisiko rusak atau terbuang. Selain itu, food costing juga mendukung pengelolaan stok yang lebih baik, seperti penerapan sistem FIFO (First In First Out) dan pemanfaatan bahan sisa yang masih layak, sehingga mengurangi limbah makanan yang terbuang.

4. Memaksimalkan margin keuntungan bisnis

Food costing membantu bisnis mengetahui secara detail selisih antara biaya produksi dan harga jual, sehingga margin keuntungan bisa dihitung dan dioptimalkan. Dengan data ini, pemilik usaha dapat mengevaluasi menu mana yang paling menguntungkan, menyesuaikan harga ketika terjadi kenaikan bahan baku, serta mengontrol pengeluaran dapur secara lebih efisien. 

Keuntungan yang maksimal ini kemudian bisa digunakan kembali untuk pengembangan bisnis, seperti meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperbaiki fasilitas, menambah variasi menu, hingga memperluas usaha.

Cara Menentukan Harga Jual untuk Tingkatkan Food Costing

Berikut beberapa cara menentukan harga jual yang tepat agar profitabilitas bisnis kuliner terjaga:

1. Hitung total HPP dan HPP per porsi

Langkah pertama adalah menghitung total HPP (Harga Pokok Produksi), yaitu seluruh biaya yang dikeluarkan untuk membuat satu batch/menu, termasuk bahan utama, bumbu, kemasan, hingga biaya pendukung seperti gas dan listrik. Setelah itu, total HPP dibagi dengan jumlah porsi yang dihasilkan untuk mendapatkan HPP per porsi, yaitu biaya riil untuk satu porsi makanan. 

Setelah HPP per porsi diketahui, barulah kita bisa menentukan harga jual yang sesuai agar food cost tetap ideal. Jika food cost terlalu tinggi, berarti harga jual terlalu rendah atau biaya bahan terlalu mahal sehingga keuntungan menjadi kecil.

2. Tentukan margin yang ingin didapat

Setelah mengetahui HPP per porsi, langkah berikutnya adalah menentukan margin keuntungan yang ingin dicapai. Margin ini adalah selisih antara biaya produksi dan harga jual yang menjadi keuntungan bisnis. 

Umumnya, bisnis kuliner menetapkan margin sekitar 30%-50%, tergantung pada konsep usaha, target pasar, dan positioning brand. Setelah margin ditentukan, harga jual bisa dihitung menggunakan metode seperti markup atau target margin. Dengan cara ini, setiap menu di restoran Anda dapat menutup biaya produksi secara konsisten dengan keuntungan sesuai target.

3. Lakukan riset pasar

Selain perhitungan biaya, harga jual juga harus disesuaikan dengan kondisi pasar. Riset pasar dilakukan dengan melihat harga kompetitor, target konsumen, dan daya beli pelanggan. Hal ini penting agar harga tidak terlalu mahal sehingga tidak laku, atau terlalu murah sehingga merugikan bisnis. 

Riset ini membantu menentukan batas harga yang masih bisa diterima pasar, sekaligus memastikan bahwa food cost tetap berada dalam kisaran ideal.

4. Uji coba harga secara berkala

Harga jual tidak bersifat tetap, sehingga perlu dilakukan evaluasi dan uji coba secara berkala. Penyesuaian harga bisa dilakukan ketika terjadi perubahan biaya bahan baku, perubahan tren pasar, atau perubahan perilaku konsumen. 

Uji coba ini dapat Anda lakukan dengan menaikkan harga secara bertahap, membuat paket menu, atau menggunakan strategi promosi tertentu untuk melihat respons pelanggan. Dari hasil uji coba tersebut, bisnis dapat menentukan harga paling optimal yang menjaga keseimbangan antara penjualan dan keuntungan.

Cara Lain Memaksimalkan Food Costing

Berikut beberapa strategi lanjutan yang dapat membantu bisnis kuliner mengoptimalkan biaya bahan baku dan meningkatkan profit secara signifikan:

1. Buat SOP jelas untuk setiap menu

Salah satu cara paling efektif untuk mengontrol food costing adalah dengan membuat SOP dan standard recipe yang jelas untuk setiap menu. SOP ini mencakup takaran bahan yang presisi, langkah-langkah memasak, hingga standar plating yang harus diikuti oleh seluruh tim dapur. 

Dengan adanya standardisasi ini, setiap hidangan akan memiliki konsistensi rasa, porsi, dan kualitas yang sama, sehingga risiko pemborosan bahan baku (food waste) dapat diminimalkan. Selain itu, penggunaan bahan juga menjadi lebih terukur karena semua komponen, termasuk bumbu kecil sekalipun, sudah dihitung dalam recipe costing.

2. Hindari menyertakan terlalu banyak pilihan menu

Memiliki terlalu banyak pilihan menu justru dapat meningkatkan biaya operasional dan food cost secara tidak terkendali. Dengan menerapkan konsep minimum viable menu, bisnis dapat lebih fokus pada menu-menu yang paling laku dan paling menguntungkan. 

Selain itu, penggunaan bahan baku juga menjadi lebih efisien karena satu bahan dapat digunakan untuk beberapa menu sekaligus. Strategi ini mampu menekan risiko bahan terbuang, mempermudah operasional dapur, mempercepat pelayanan, dan meningkatkan konsistensi kualitas makanan.

3. Perhatikan porsi makanan yang disajikan

Pengendalian porsi atau portion control merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas food cost. Setiap bahan harus ditakar dengan alat ukur yang konsisten seperti timbangan, sendok takar, atau scoop agar tidak terjadi kelebihan penggunaan bahan.

Kemudian, penggunaan piring dengan ukuran yang sesuai juga membantu menjaga konsistensi penyajian. Evaluasi porsi secara berkala juga penting dilakukan untuk melihat apakah ada pemborosan atau sisa makanan dari pelanggan, sehingga porsi dapat disesuaikan tanpa mengurangi kepuasan konsumen.

4. Negosiasi dengan supplier jika memungkinkan

Food cost juga sangat dipengaruhi oleh harga bahan baku, sehingga negosiasi dengan supplier menjadi langkah strategis yang tidak boleh diabaikan. Sebelum bernegosiasi, penting untuk melakukan riset harga pasar dan membandingkan beberapa vendor

Volume pembelian yang besar atau kerja sama jangka panjang dapat menjadi daya tawar untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif. Selain harga, aspek lain seperti ongkos kirim, fleksibilitas pengiriman, hingga sistem pembayaran juga dapat dinegosiasikan untuk menekan biaya operasional secara keseluruhan.

5. Analisis performa penjualan tiap menu

Analisis performa penjualan menu penting untuk mengoptimalkan food costing dengan mengetahui menu yang paling menguntungkan dan yang perlu dievaluasi. Melalui menu engineering, menu dikategorikan menjadi Stars, Plowhorses, Puzzles, dan Dogs berdasarkan popularitas dan profitabilitas. Dari sini, bisnis dapat menentukan apakah menu perlu dipertahankan, diperbaiki, atau dihapus, sekaligus menjaga HPP, porsi, dan waste agar food cost tetap stabil.

Dalam hal ini, Moka POS membantu proses ini dengan menyediakan data penjualan secara real-time yang bisa diakses dari berbagai outlet dalam satu dashboard. Pemilik bisnis dapat dengan mudah melihat menu terlaris, tren penjualan, hingga performa harian tanpa rekap manual. Data ini kemudian terhubung dengan manajemen inventaris, sehingga setiap transaksi otomatis mengurangi stok bahan baku sesuai resep. Alhasil, pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, akurat, dan berbasis data.

6. Lakukan audit stok bahan baku secara berkala

Audit stok bahan baku secara berkala penting untuk menjaga akurasi food costing karena memastikan kesesuaian antara stok fisik dan data sistem. Proses ini membantu mengurangi waste, mencegah kehilangan bahan, serta mengontrol HPP agar tetap sesuai target. Dengan audit yang rutin, bisnis juga bisa lebih cepat mendeteksi selisih stok dan memperbaiki penyebabnya sebelum berdampak pada profit.

Moka POS menyederhanakan proses audit melalui sistem Manajemen Stok berbasis real-time yang otomatis mencatat setiap pergerakan bahan baku. Fitur seperti ingredient inventory, adjustment stok, dan low stock alert membantu pemilik bisnis mengontrol stok dengan lebih presisi. Ditambah laporan stok yang lengkap dari awal hingga akhir, proses audit menjadi lebih cepat, akurat, dan minim kesalahan manusia.

Menentukan harga jual makanan yang tepat akan memastikan bisnis tetap sehat dan menguntungkan dalam jangka panjang. Dengan memahami food costing secara menyeluruh, mulai dari HPP, margin, hingga strategi pengendalian biaya, pelaku bisnis F&B dapat mengambil keputusan harga yang lebih akurat dan kompetitif di pasar. Pada akhirnya, food costing yang terkontrol dengan baik akan membantu menjaga keseimbangan antara kualitas, harga, dan profit.

Namun, semua proses tersebut akan jauh lebih mudah jika didukung oleh sistem yang tepat. Dengan Moka POS, Anda bisa mengelola penjualan, stok bahan baku, hingga analisis performa menu dalam satu dashboard real-time. 

Setiap transaksi langsung terhubung dengan inventaris dan laporan penjualan, sehingga perhitungan food cost menjadi lebih akurat, cepat, dan minim kesalahan. Saatnya mengelola bisnis F&B Anda dengan lebih cerdas dan efisien. Coba demo gratis Moka POS sekarang!

Social Media Share :